Rabu, 03 April 2013

LDR (LONG DISTANCE RELATIONSHIP)


Aku terinspirasi untuk menulis ini dari sebuah buku yang tidak sengaja aku beli di sebuah toko buku terkenal di daerah ku. Buku itu berisi tentang kumplan kisah percintaan yg terpisahkan oleh jarak. Lalu, aku teringat bahwa aku juga memiliki kisah LDR, sekitar 3 tahun lalu. Saat itu aku berada di kelas 1 SMA. Jejaring social facebook sangat terkenal saat itu. Aku menjadi salah satu tokoh yang menggunakan fasilitas facebook. Awalnya hanya untuk menemukan seorang teman dari luar daerah, namun aku menjadi tertarik untuk menjalin hubungan dengan seseorang setelah aku bertemu dia.
Namanya Airul. Pertemuan kami hanya sebatas teman facebook, SMS, MMS, dan telpon. Ya, dia berbeda daerah dengan ku. Jika ingin bertemu, kami harus keluar pulau. Maka sebuah pertemuan yang sesungguhnya pun menjadi hal yg sangat mustahil. Bukan hanya jarak yg memisahkan kami, usia yg terpaud sekitar 6 tahun juga menjadi hal yg berpengaruh. Awal-awal pacaran kami merasa jarak yg begitu jauh tak dapat menghalangi rsa sayang d antara kami. Namun, karena perbedaan usia ku yang masih teramat labil dan dia yg telah menginjak dewasa, membuat ruang perbedaan d antara kami semakin lebar. Hari-hari kami lewati dengan pertengkaran. Dan akhirnya LDR yang ku jalani bersamanya selama 5 bulan pupus sudah.
LDR pertama yg aku jalani, tak membuat ku trauma untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Entah karena jodoh atau apa aku bertemu dengan Dedy Suprianto. Lagi-lagi facebook menjadi perantara awal aku bertemu dengannya. Dia seseorang yang baik, perhatian, dan tulus. Itulah yg aku rasakan setelah satu hari berkenalan dengannya. Dia kemudian meminta nomor handphone ku. Hari itu juga dia nyatakan keinginannya untuk menjadi pacar ku. Yap, hanya dengan satu hari.
Kalau aku ingat-ingat lagi sih lucu juga kejadiannya. Dia salah satu orang yang humoris juga. Mungkin karna itu aq menerima menjadi pacar ku. Aku bisa tertawa dengan membaca pesan-pesan singkat darinya d ponsel ku. Tapi, ada satu hal yg membuat ku penasarn dengannya. Aku belum tau bagaimana rupa wajahnya. Setiap kali aku minta foto dirinya, dia selalu saja menolak. Bahkan d facebooknya pun tak ada satu foto tentang dirinya. Karna dia tinggal d kota yang berbeda dengan ku, maka untuk bertemu pun susah. Keinginan untuk bertemu sangat besar berkecamuk d dalam diri ku. Namun aku masih bisa menahannya. Dia pun sama, ingin segera bertemu dengan ku.
Bersama dia aku merasakan pacaran yg sesungguhnya. Dia mengajariku bnyak hal. Dia seseorang dewasa yang bisa mengimbangi sikap kekanakan ku. Walaupun kami LDR, tapi dia terasa berada d samping ku setiap saat. Terasa begitu dekat. Aku mencintainya. Dia pun setiap malam berkata begitu kepadaku lewat ponselnya. Dia mengungkapkan rasa sayangnya dengan berbagai hal. Saat aku menangisi keadaan karir ku sebagai atlit voli d SMA ku, dya selalu memeluku. Walaupun hanya lewat ponsel. Tapi, aku merasakan tngannya membelai lembut rambut ku. Hal itu membuat ku yakin bahwa aku mencintainya. Tak ada kejadian dlam hidup ku yg tak kuceritkan kepadanya. Tiap malam aku curhat kepadanya, dan dia adlah pendengar yg baik sekali.
Pertengkaran bukan hal baru dlam hubungan kami. Hampir setiap hari kami bertengkar mengenai hal-hal kecil. Misalnya saja dya lambat untuk membalas SMS ku. Aku pun tak segan untuk marah padanya. Tapi acara marah itu tak bertahan lama. Dia tau bagaimana menyenangkan hati wanita. Terutama wanita seperti ku. Maka kami pun kembali akur. Tak ada pertengkaran yg berarti bagi kami. Smuanya hanya pertengkaran-pertengkaran kecil.
Semakin hari semakin besar rasa penasaran ku kepdanya. Tak jarang aku membayangkan sosoknya yg tinggi dan penuh karisma yg bisa memikat hati wanita hanya dengan tatapannya. Dia tau aku sering berhayal tentang dia. Dan aku kaget saat dia menanggapi ku dengan kata-katanya, “jangan berharap terlalu tinggi, karna aku tak mau kamu sakit setelah tau aku tak setinggi harapan mu”. Aku hanya diam membisu. Apa artinya.
6 bulan aku berpacaran dengannya. Keinginan untuk bertemu semakin besar. Mengingat bahwa aku tak memegang satu lembar foto dirinya. Aku merasakan dia selalu saja menghindar saat aku memintanya mengunjungi ku d kota aku tinggal. Aku mengerti dya harus kerja, tapi untuk seseorang yg mencintainya apakah dia tega.
Akhirnya hari yg ku tunggu muncul juga. Dia akan pergi untuk menemui ku. Hari Raya Idul Fitri ke dua menjadi waktu yg pas untuk bertemu. Kami pun janji bertemu d sebuah gedung planetarium d kota tempat aku tinggal. Setelah menunngu bbrapa menit, akhir.a dya sampai dan kami bertemu. rasa kangen yg sudh aku simpan selama 6 bulan tak bisa tertahan lagi. Kami menonton pertunjukan yg ada d gedung planetarium itu. Selama satu hari kami bersama tgannya tak lepas dari tangan ku. Dia berkata, “aku takut kamu d gandeng orang lain”.
Kalau d ingat-ingat kejadian itu bsa bkin aku merinding karna deg-deg-an. Tapi itu lah yg namanya LDR. Sekarang setelah 3 tahun berlalu, aku dan Dedi tak lagi bersama bnyak hal yang membuat kami tak bisa lagi berhubgan. Hal pertama yang membuat ku memutuskan tali pacarn adlah karena masalah restu dari orang tua qu. Maka aku pun menyebut kata putus pdanya.
Namun, apakah karena takdir kami selalu saja bertemu. Walaupun hanya lewat hp. Dya masih saja perhatian kepada ku. Walaupun kami sudah tdak berpacaran lagi. Hingga pada suatu saat aku memutuskan untuk menerimanya lagi dengan kekurangannya. Aku dan dia berjuang demi cinta kita. Kita hadapi semua halangan yg merintangi. Aku bahagia dya bisa hadir dalam hidupku. Hingga hari itu tiba. Aku memutuskan untuk memperkenalkan dya kepada ibu ku. Aku memintanya dtg ke kota tempat aku tinggal untuk mengantar aku latihan voli rutin yg d adakan pada kamis malam d skolah ku. Ternyata respon yg dya dpat dari ibu qu adalah penolakan.
Setelah kejadian itu aku tak dpat berfikir jernih. Aku dan dya mencari cara agar kita bsa dpat restu dari orang tua ku. Aku sedih jika harus berpisah dengannya. Hamper satu tahun kita bersama. Ada seseorang yg dpat mengerti kita. Jika kita d paksa berpisah dengan orang itu rsnya seperti kehilangan sebagian dari diri qta. Akhirnya hubungan itu tak dpat d pertahankan. Aku dan dia bner-bner sudah berakhir.
LDR mengajarkan aku untuk lebih sabar dan dewasa. Aku merasakan apa yang d sebut pacaran. Sekarang aku sudh ada pengganti dya, walaupun belum benar-benar mengganti. Aku merasakan ada sesutau yg kurang. Mungkin karena Dedi adlah cinta pertama ku. Dan aq kangen LDR-ku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar