Aku
terinspirasi untuk menulis ini dari sebuah buku yang tidak sengaja aku beli di
sebuah toko buku terkenal di daerah ku. Buku itu berisi tentang kumplan kisah
percintaan yg terpisahkan oleh jarak. Lalu, aku teringat bahwa aku juga
memiliki kisah LDR, sekitar 3 tahun lalu. Saat itu aku berada di kelas 1 SMA.
Jejaring social facebook sangat terkenal saat itu. Aku menjadi salah satu tokoh
yang menggunakan fasilitas facebook. Awalnya hanya untuk menemukan seorang
teman dari luar daerah, namun aku menjadi tertarik untuk menjalin hubungan
dengan seseorang setelah aku bertemu dia.
Namanya
Airul. Pertemuan kami hanya sebatas teman facebook, SMS, MMS, dan telpon. Ya,
dia berbeda daerah dengan ku. Jika ingin bertemu, kami harus keluar pulau. Maka
sebuah pertemuan yang sesungguhnya pun menjadi hal yg sangat mustahil. Bukan
hanya jarak yg memisahkan kami, usia yg terpaud sekitar 6 tahun juga menjadi
hal yg berpengaruh. Awal-awal pacaran kami merasa jarak yg begitu jauh tak
dapat menghalangi rsa sayang d antara kami. Namun, karena perbedaan usia ku
yang masih teramat labil dan dia yg telah menginjak dewasa, membuat ruang
perbedaan d antara kami semakin lebar. Hari-hari kami lewati dengan
pertengkaran. Dan akhirnya LDR yang ku jalani bersamanya selama 5 bulan pupus
sudah.
LDR
pertama yg aku jalani, tak membuat ku trauma untuk menjalin hubungan dengan
seseorang. Entah karena jodoh atau apa aku bertemu dengan Dedy Suprianto.
Lagi-lagi facebook menjadi perantara awal aku bertemu dengannya. Dia seseorang
yang baik, perhatian, dan tulus. Itulah yg aku rasakan setelah satu hari
berkenalan dengannya. Dia kemudian meminta nomor handphone ku. Hari itu juga
dia nyatakan keinginannya untuk menjadi pacar ku. Yap, hanya dengan satu hari.
Kalau
aku ingat-ingat lagi sih lucu juga kejadiannya. Dia salah satu orang yang
humoris juga. Mungkin karna itu aq menerima menjadi pacar ku. Aku bisa tertawa
dengan membaca pesan-pesan singkat darinya d ponsel ku. Tapi, ada satu hal yg
membuat ku penasarn dengannya. Aku belum tau bagaimana rupa wajahnya. Setiap
kali aku minta foto dirinya, dia selalu saja menolak. Bahkan d facebooknya pun
tak ada satu foto tentang dirinya. Karna dia tinggal d kota yang berbeda dengan
ku, maka untuk bertemu pun susah. Keinginan untuk bertemu sangat besar
berkecamuk d dalam diri ku. Namun aku masih bisa menahannya. Dia pun sama,
ingin segera bertemu dengan ku.
Bersama
dia aku merasakan pacaran yg sesungguhnya. Dia mengajariku bnyak hal. Dia
seseorang dewasa yang bisa mengimbangi sikap kekanakan ku. Walaupun kami LDR,
tapi dia terasa berada d samping ku setiap saat. Terasa begitu dekat. Aku
mencintainya. Dia pun setiap malam berkata begitu kepadaku lewat ponselnya. Dia
mengungkapkan rasa sayangnya dengan berbagai hal. Saat aku menangisi keadaan
karir ku sebagai atlit voli d SMA ku, dya selalu memeluku. Walaupun hanya lewat
ponsel. Tapi, aku merasakan tngannya membelai lembut rambut ku. Hal itu membuat
ku yakin bahwa aku mencintainya. Tak ada kejadian dlam hidup ku yg tak
kuceritkan kepadanya. Tiap malam aku curhat kepadanya, dan dia adlah pendengar
yg baik sekali.
Pertengkaran
bukan hal baru dlam hubungan kami. Hampir setiap hari kami bertengkar mengenai
hal-hal kecil. Misalnya saja dya lambat untuk membalas SMS ku. Aku pun tak
segan untuk marah padanya. Tapi acara marah itu tak bertahan lama. Dia tau
bagaimana menyenangkan hati wanita. Terutama wanita seperti ku. Maka kami pun
kembali akur. Tak ada pertengkaran yg berarti bagi kami. Smuanya hanya
pertengkaran-pertengkaran kecil.
Semakin
hari semakin besar rasa penasaran ku kepdanya. Tak jarang aku membayangkan
sosoknya yg tinggi dan penuh karisma yg bisa memikat hati wanita hanya dengan
tatapannya. Dia tau aku sering berhayal tentang dia. Dan aku kaget saat dia
menanggapi ku dengan kata-katanya, “jangan berharap terlalu tinggi, karna aku
tak mau kamu sakit setelah tau aku tak setinggi harapan mu”. Aku hanya diam
membisu. Apa artinya.
6 bulan aku berpacaran
dengannya. Keinginan untuk bertemu semakin besar. Mengingat bahwa aku tak
memegang satu lembar foto dirinya. Aku merasakan dia selalu saja menghindar
saat aku memintanya mengunjungi ku d kota aku tinggal. Aku mengerti dya harus
kerja, tapi untuk seseorang yg mencintainya apakah dia tega.
Akhirnya
hari yg ku tunggu muncul juga. Dia akan pergi untuk menemui ku. Hari Raya Idul
Fitri ke dua menjadi waktu yg pas untuk bertemu. Kami pun janji bertemu d
sebuah gedung planetarium d kota tempat aku tinggal. Setelah menunngu bbrapa
menit, akhir.a dya sampai dan kami bertemu. rasa kangen yg sudh aku simpan
selama 6 bulan tak bisa tertahan lagi. Kami menonton pertunjukan yg ada d
gedung planetarium itu. Selama satu hari kami bersama tgannya tak lepas dari
tangan ku. Dia berkata, “aku takut kamu d gandeng orang lain”.
Kalau
d ingat-ingat kejadian itu bsa bkin aku merinding karna deg-deg-an. Tapi itu
lah yg namanya LDR. Sekarang setelah 3 tahun berlalu, aku dan Dedi tak lagi
bersama bnyak hal yang membuat kami tak bisa lagi berhubgan. Hal pertama yang
membuat ku memutuskan tali pacarn adlah karena masalah restu dari orang tua qu.
Maka aku pun menyebut kata putus pdanya.
Namun,
apakah karena takdir kami selalu saja bertemu. Walaupun hanya lewat hp. Dya
masih saja perhatian kepada ku. Walaupun kami sudah tdak berpacaran lagi. Hingga
pada suatu saat aku memutuskan untuk menerimanya lagi dengan kekurangannya. Aku
dan dia berjuang demi cinta kita. Kita hadapi semua halangan yg merintangi. Aku
bahagia dya bisa hadir dalam hidupku. Hingga hari itu tiba. Aku memutuskan
untuk memperkenalkan dya kepada ibu ku. Aku memintanya dtg ke kota tempat aku
tinggal untuk mengantar aku latihan voli rutin yg d adakan pada kamis malam d skolah
ku. Ternyata respon yg dya dpat dari ibu qu adalah penolakan.
Setelah
kejadian itu aku tak dpat berfikir jernih. Aku dan dya mencari cara agar kita
bsa dpat restu dari orang tua ku. Aku sedih jika harus berpisah dengannya.
Hamper satu tahun kita bersama. Ada seseorang yg dpat mengerti kita. Jika kita
d paksa berpisah dengan orang itu rsnya seperti kehilangan sebagian dari diri
qta. Akhirnya hubungan itu tak dpat d pertahankan. Aku dan dia bner-bner sudah
berakhir.
LDR
mengajarkan aku untuk lebih sabar dan dewasa. Aku merasakan apa yang d sebut
pacaran. Sekarang aku sudh ada pengganti dya, walaupun belum benar-benar
mengganti. Aku merasakan ada sesutau yg kurang. Mungkin karena Dedi adlah cinta
pertama ku. Dan aq kangen LDR-ku.